Assalamu’alaikum Wr. Wb.,Apakabar Sahabat SMART? Semoga kita selalu diberi kesempatan untuk saling berbagi inspirasi.
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu”
Sahabat, mewaknai motivasi yang begitu indah dari Ustd. Rahmat Abdullah, rasanya harus ada keberanian mengakui (terutama penulis), bahwa kita begitu tertegun terpesona dengan rangkaian kata kata indah itu, tapi sekaligus juga mengkelukan lidah, mengkakukan langkah, karena betapa sulitnya untuk mentauladani motivasi indah tersebut.
Seringkali terdiam gerak kita karena lelah, seringkali terhenti lari kita karena bosan, seringkali terduduk jalan kita karena letih, seringkali jebol pertahanan karena futur.
Sahabat, bukankah sebuah bangunan itu akan terlihat indah sempurna tatkala kuasan cat terakhir sudah disapukan, letakan genting terakhir sudah disematkan, dan beberapa hiasan dinding dipajangkan, lalu apa yang membuat kita berhenti lalu pergi meninggalkan gundukan pasir, tumpukan bata dan bongkahan batu?
Bukankah buah itu akan ranum mengharum setelah daunnya rindang dan berdahan kokoh, lalu kenapa tak lagi menyirami tunas?
Bukankah hasil itu akan nampak dipenghujung, sementara kita tersepakati untuk menikmati proses, lalu dengan alasan apa kita hentikan langkah?
Bila kuantitas tidak menjadi pemberat, lalu kenapa kita remehkan remah remah itu.
Ataukah kita sedang terperosok didalam kubangan lumpur kekurangan lalu kita keasyikan menghitung lumpur yang menempel?, karena seharusnya kita terus berlari sambil membawa luluran lumpur itu dibadan, sehingga kelak kita bisa melihat lumpur mana saja yang sempat menggelincirkan kita.
Bagi sebagian kita mungkin saja menganggap buah tangan kita terlalu usang atau dinilai tidak berharga, tapi kita juga tidak pernah tahu karya itu sesuatu yang baru dan berharga bagi yang lain.
Bagi sebagian kita mungkin saja tidak terlalu memusingkan harus membuat dan berbuat apa, tapi siapakah yang tahu diluar sana ada belasan orang atau beberapa orang atau setidaknya seseorang yang sudah merasa kelamaan menunggu karya sepele kita bisa kembali hadir, atau bahkan hanya sekedar menunggu sapaan kita.
Boleh jadi kita tidak begitu menyadari bahwa sebenarnya goresan karya kita sesungguhnya adalah wajah atau bahkan jantung yang begitu berarti dari bangunan yang sudah mulai kita susun.
Lalu jika sudah menanggap bahwa ini adalah hasil akhir, maka teruskanlah perhentian itu atau jika kita merasa ini adalah kubangan, maka raihlah remah remah itu lalu bersusah payahlah kembali menyusunnya.
Diposting untuk www.lsmsmart.blogspot.com
Sahabat, mewaknai motivasi yang begitu indah dari Ustd. Rahmat Abdullah, rasanya harus ada keberanian mengakui (terutama penulis), bahwa kita begitu tertegun terpesona dengan rangkaian kata kata indah itu, tapi sekaligus juga mengkelukan lidah, mengkakukan langkah, karena betapa sulitnya untuk mentauladani motivasi indah tersebut.
Seringkali terdiam gerak kita karena lelah, seringkali terhenti lari kita karena bosan, seringkali terduduk jalan kita karena letih, seringkali jebol pertahanan karena futur.
Sahabat, bukankah sebuah bangunan itu akan terlihat indah sempurna tatkala kuasan cat terakhir sudah disapukan, letakan genting terakhir sudah disematkan, dan beberapa hiasan dinding dipajangkan, lalu apa yang membuat kita berhenti lalu pergi meninggalkan gundukan pasir, tumpukan bata dan bongkahan batu?
Bukankah buah itu akan ranum mengharum setelah daunnya rindang dan berdahan kokoh, lalu kenapa tak lagi menyirami tunas?
Bukankah hasil itu akan nampak dipenghujung, sementara kita tersepakati untuk menikmati proses, lalu dengan alasan apa kita hentikan langkah?
Bila kuantitas tidak menjadi pemberat, lalu kenapa kita remehkan remah remah itu.
Ataukah kita sedang terperosok didalam kubangan lumpur kekurangan lalu kita keasyikan menghitung lumpur yang menempel?, karena seharusnya kita terus berlari sambil membawa luluran lumpur itu dibadan, sehingga kelak kita bisa melihat lumpur mana saja yang sempat menggelincirkan kita.
Bagi sebagian kita mungkin saja menganggap buah tangan kita terlalu usang atau dinilai tidak berharga, tapi kita juga tidak pernah tahu karya itu sesuatu yang baru dan berharga bagi yang lain.
Bagi sebagian kita mungkin saja tidak terlalu memusingkan harus membuat dan berbuat apa, tapi siapakah yang tahu diluar sana ada belasan orang atau beberapa orang atau setidaknya seseorang yang sudah merasa kelamaan menunggu karya sepele kita bisa kembali hadir, atau bahkan hanya sekedar menunggu sapaan kita.
Boleh jadi kita tidak begitu menyadari bahwa sebenarnya goresan karya kita sesungguhnya adalah wajah atau bahkan jantung yang begitu berarti dari bangunan yang sudah mulai kita susun.
Lalu jika sudah menanggap bahwa ini adalah hasil akhir, maka teruskanlah perhentian itu atau jika kita merasa ini adalah kubangan, maka raihlah remah remah itu lalu bersusah payahlah kembali menyusunnya.
