Tab Menu 10


Jumat, 24 September 2010

SEMANGAT UNTUK ALLAH SWT



























Ku akan berlari menyingsing panggung sandiwara yang sejenak menepi....
Meski lelah kesuh mewarnai perjuangan yang tak bertepi..
Kejenuhan datang berganti...
Ujian yang tak berfaham menaungi...
Walau akhirnya selalu ada permata dibalik duri ujianMu..
Ku kan kibarkan semangat jalan juang untuk Allah..
Ku yakin,
Di pandangan Allah tak ada yang sia-sia...
Ya robby...
Teguhkan hatiku bahwa kaulah yang ku tuju..
Hingga tak ada keputus-asaan mengurangi langkahku..
Maju trus tuk gapai ridhaMu...
Hingga di titik akhirku bisa melihat WajahMu

By spirit of jihad
Continue....................

Senin, 29 Maret 2010

BULETIN DIRI

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Apakabar Sahabat SMART? Semoga kita selalu diberi kesempatan untuk saling berbagi inspirasi.

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu”

Sahabat, mewaknai motivasi yang begitu indah dari Ustd. Rahmat Abdullah, rasanya harus ada keberanian mengakui (terutama penulis), bahwa kita begitu tertegun terpesona dengan rangkaian kata kata indah itu, tapi sekaligus juga mengkelukan lidah, mengkakukan langkah, karena betapa sulitnya untuk mentauladani motivasi indah tersebut.

Seringkali terdiam gerak kita karena lelah, seringkali terhenti lari kita karena bosan, seringkali terduduk jalan kita karena letih, seringkali jebol pertahanan karena futur.

Sahabat, bukankah sebuah bangunan itu akan terlihat indah sempurna tatkala kuasan cat terakhir sudah disapukan, letakan genting terakhir sudah disematkan, dan beberapa hiasan dinding dipajangkan, lalu apa yang membuat kita berhenti lalu pergi meninggalkan gundukan pasir, tumpukan bata dan bongkahan batu?

Bukankah buah itu akan ranum mengharum setelah daunnya rindang dan berdahan kokoh, lalu kenapa tak lagi menyirami tunas?

Bukankah hasil itu akan nampak dipenghujung, sementara kita tersepakati untuk menikmati proses, lalu dengan alasan apa kita hentikan langkah?

Bila kuantitas tidak menjadi pemberat, lalu kenapa kita remehkan remah remah itu.

Ataukah kita sedang terperosok didalam kubangan lumpur kekurangan lalu kita keasyikan menghitung lumpur yang menempel?, karena seharusnya kita terus berlari sambil membawa luluran lumpur itu dibadan, sehingga kelak kita bisa melihat lumpur mana saja yang sempat menggelincirkan kita.

Bagi sebagian kita mungkin saja menganggap buah tangan kita terlalu usang atau dinilai tidak berharga, tapi kita juga tidak pernah tahu karya itu sesuatu yang baru dan berharga bagi yang lain.

Bagi sebagian kita mungkin saja tidak terlalu memusingkan harus membuat dan berbuat apa, tapi siapakah yang tahu diluar sana ada belasan orang atau beberapa orang atau setidaknya seseorang yang sudah merasa kelamaan menunggu karya sepele kita bisa kembali hadir, atau bahkan hanya sekedar menunggu sapaan kita.

Boleh jadi kita tidak begitu menyadari bahwa sebenarnya goresan karya kita sesungguhnya adalah wajah atau bahkan jantung yang begitu berarti dari bangunan yang sudah mulai kita susun.

Lalu jika sudah menanggap bahwa ini adalah hasil akhir, maka teruskanlah perhentian itu atau jika kita merasa ini adalah kubangan, maka raihlah remah remah itu lalu bersusah payahlah kembali menyusunnya.


Diposting untuk www.lsmsmart.blogspot.com

Senin, 08 Maret 2010

Try Out 4 UN


Assalamu'alaikum sahabat2 SMART...
gmn kabarny??g trasa ya waktu ini bergulir??
sbntar lagi udah mau kelulusan skolah...ada yg mau lulus SD...lulus SMP...atau lulus SMA...pertanyaanya, siapkah qt untuk ngelakuin ujian kelulusan???????
bnyak orang yg keburu stres kalo inget dg UJIAN NASIONAL...padahal, blm tentu qt g bisa..tp, krn udah stres dluan...hapalan yg dah qt hapal az bisa lupa semua (apalagi yg belom qt hapal...hehehe).
makany, untuk latihan UJIAN NASIONAL, qt nih (red. LSM SMART) mw ngadain Try Out 4 UN...spaya sahabat2 smua lebih PD pas UJIAN NASIONAL sesungguhnya...
Informasiny bs d liat d pamflet sebelah y...d tunggu kdatangannya....salam sukses u smua...
Wassalamu'alaikum...

Sabtu, 06 Maret 2010

Hadir Kembali Generasi Baru SMART

Alhamdulillah...tepatnya 5 Maret 2010 kurang lebih pukul 15.30 wib. Telah lahir satu lagi Generasi baru Mujahidah SMART dengan berat 2,99 kg dan tinggi 49 cm di Rumah Sakit Al-Islam Bandung melalui operasi caesar.

Kebahagiaan tak terkira terpancar dari wajah-wajah pejuang SMART, terutama "Sang Bunda"...ya, Bunda Restu Qta akrab menyapanya.

Kami segenap kru SMART mengucapkan "Selamat Atas Kelahiran Putri Pertama dari Yayan Setiawan dan Restu Handayani". Semoga menjadi orangtua yang amanah dan Putri tercintanya menjadi anak yang Sholehah...Amin.

Kamis, 18 Februari 2010

Senin, 15 Februari 2010

KEMATIAN HATI

Ust. Rahmat Abdullah
Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan tuhannya.

Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang Allah berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan Allah atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang. Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.


Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya kepada khalayak. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan banyak orang karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan ambisi pribadinya, atau tidak mau kalah atau tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dan kata.

Dimana kau letakkan dirimu? Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut, sampai sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat obyek ma’siat menggodamu dan engkau menikmatinya? Malu kepada Allah dan hati nurani tak ada lagi.

Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani bertambah tinggi. Rasa malu kepada Allah, dimana kau kubur dia? Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU 25 % mengaku telah berzina dan hampir separuhnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan perkosaan, walaupun pada saatnya mereka memperkosa.

Dan masyarakat memanjakan mereka, karena “mereka masih dibawah usia”. Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan - bila engkau laki-laki atau sebaliknya (akhi dan ukhti)- di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh”

Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat”? Saat engkau mau muntah melihat laki-laki berpakaian perempuan, karena kau sangat percaya kepada ustadzmu yang mengatakan “ Jika Allah melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?”Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama dan yang paling tinggi berteriak “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, lalu sesudah itu urusan kesendirian tinggallah antara engkau dengan lamunanmu, tak ada Allah disana?

Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Kau yang tak mampu melawan berontak hatimu untuk tidak makan berdiri di tengah suatu resepsi mewah. Berbisiklah syaithanmu : “Jika kau duduk di lantai atau di kursi malam ini citra da’wah akan ternoda”. Seakan engkau-lah pemilik da’wah ini.

Lupakah kau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter. Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, tak lain karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu. Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”-nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, Allah waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah? Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam seperti ayah, bahkan lebih dekat lagi”

Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama? Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam organisasinya? Kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat masyarakat awam? Bukankah ini mengkomersilkan kekurangan masyarakat? Koruptor macam apa engkau ini? Semoga ini tak terjadi pada dirimu, karena kafilah yang pernah berlalu tak sunyi dari peruntuh bangunan yang dibina dengan susah payah.

Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mall. Betapa besar sumbangan mereka kepada Amerika dan Zionis dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk makanan mereka, semata-mata karena nuansa “westernnya”. Engkau akan menjadi faqih pedebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”. Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri.

Mahatma Ghandi memimpin perjuangan kemerdekaan India dengan kain tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana. Bila ia minta bangsanya mendongakkan kepala dengan bangga, maka 300 juta bangsa India akan tegak, walau-pun tulang punggung mereka tak kuat lagi berdiri karena lapar dan kurang gizi.

Kini datang “pemimpin” ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil dan rumah mewah serta hidup di tengah gemerlap kehidupan selebritis. Saat fatwa digenderangkan, ummat tak lagi punya kemauan untuk mendengar. “Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku”…
Di posting oleh www.lsmsmart.blogspot.com