Tab Menu 10


Selasa, 28 Desember 2010

Manfaatkan Momen Awal Tahun!

Sebuah message singkat di HP dan email gue seminggu yang lalu mengingatkan kalo minggu ini sudah waktunya gue nulis lagi buat gaulislam. Pertama baca seneng sekaligus sedih. Seneng karena bisa ketemu lagi dengan para pembaca setia gaulislam. Namun sedih karena waktunya pas banget dengan libur panjang. Karena dikejar deadline, jadi nggak bisa all out nih selama liburan. Eh emang liburan ini gue mau ngapain ya? Hmmm… setelah mikir 3 Jam 10 menit 3 detik, kok masih blank! Walah kok blank? Gue lupa bikin rencana liburan! Ohh noooo.
Emang setiap akhir tahun selalu ditandai dengan musim liburan yang panjang. Waktu liburan yang cukup lama ini praktis bikin kita enjoy banget. Sehingga ujungnya kita malah lupa nggak ngapa-ngapain alias nggak planning libur panjang ini mau buat apa. Situasi yang sama juga ngga beda jauh bagi para pekerja. Karena stres dan beban kerja yang entah kenapa nggak ada habisnya, tiap kali ketemu ama yang namanya liburan, mereka seneng banget, persis kayak kodok ketemu aer, eh nyambung nggak sih? Bagi mereka yang penting tidak kerja dan bisa menikmati hari-hari nyantai tanpa tekanan kerjaan dan deadline.
Dari awal bulan Desember kemaren, suasana sudah berubah dengan drastis. Semua target harus beres dalam waktu singkat. Alhasil, dari awal bulan, load sudah tinggi. Para pekerja ngejar taget kerjaan mereka, anak-anak sekolah juga ujian di bulan tersebut. Sehingga selesai ujian nyetel banget dengan jadwal libur panjang. Intinya semua kegiatan rutin dipaksakan untuk match dengan liburan. Dalam hal ini, liburan tidak bisa diganggu gugat, alias penting banget gitu loh. Selain itu pergantian tahun selalu diwarnai dengan perayaan yang katanye untuk memperingati pergantian waktu. Sepertinya perayaan tersebut untuk menghargai waktu yang telah berlalu, tapi kenyataannya apakah demikian?
Nah, mumpung masih di bulan Muharram, yang juga bertepatan dengan bulan Januari di hitungan kalender masehi, kita coba bahas masalah ini dari sudut pandang Islam.
Urgensi Waktu
Di antara ciri seorang muslim adalah pribadi yang konsen pada waktu. Seorang muslim seharusnya tidak patut menunggu dimotivasi oleh orang lain untuk mengelola waktunya. Sebab, mengelola waktu merupakan kewajiban pribadi bagi seorang muslim. Islam menganggap perhatian terhadap pentingnya waktu adalah salah satu indikasi keimanan dan bukti ketakwaan. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada yang diciptakan Alloh di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaanNya) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Yunus [10]: 6)
Pren, Islam menempatkan ibadah ritual dalam bagian waktu, seperti sholat 5 waktu yang mengepung seluruh hari, Ibadah haji, puasa, zakat dan ibadah lainnya. Bagi seorang muslim, menghargai waktu dan menjaga penggunaannya sudah merupakan menu harian, yang mungkin tanpa kita sadari sudah kita anggap sebagai sebuah kebiasaan. Karena kita tinggal di negara yang sebagian besar penduduknya muslim, penyesuaian aktivitas dengan jadwal ibadah kita, bukan lagi sesuatu yang aneh.
Lain halnya kalo kita ada di negeri yang didominasi oleh masyarakat non muslim. Pernah suatu ketika gue di negeri orang, suatu pagi gue keluar hotel untuk berangkat ke kantor. Gue inget bener waktu itu pukul 7.30 pagi. Lha kok sepi bener jalan raya? Pada kemana nih orang-orang? Setelah clingak-clinguk nggak karuan, baru sadar kalo ternyata orang-orang di sini baru mulai beraktivitas, dan suasana di sono mirip banget dengan suasana kalo jam 6 pagi di Bogor.
Bro, jangan dikira waktu diberikan begitu saja tanpa adanya pertanggung jawaban kelak di akhirat. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Dua telapak kaki hamba tidak akan bergeser dari tempatnya pada hari kiamat nanti, sehingga ditanya tentang empat hal: tentang umurnya—dalam hal apa ia dihabiskan?; tentang masa mudanya—dalam hal apa ia dibinasakan; tentang hartanya—dari mana diperoleh dan dalam hal apa diinfakkan?; serta ilmunya—apa yang dia lakukan dengannya?” (HR at-Turmudzi)
Begitu pentingnya waktu dalam Islam sehingga pemanfaatannya pun akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat. Walaupun kita memperolehnya gratis banget, tapi kita tetap tidak terlepas dari tanggung jawab sehingga kudu menggunakannya dengan baik. Dari semua hal dalam Islam, masalah waktu ternyata menduduki tempat yang sangat penting. Itu sebabnya, para ulamapun sangat menghargai waktu. Sebagai contoh adalah pendapat Ibnu Qoyyim dari kitab al-Fawaid: “Sikap menyia-nyiakan terbesar adalah menyia-nyiakan hati dan waktu. Menyia-nyiakan hati timbul dari mengutamakan dunia atas akhirat, sedang meyia-nyiakan waktu muncul dari panjang angan-angan. Seluruh kerusakan berhimpun pada sikap mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan, sebagaimana seluruh kebaikan berhimpun pada sikap mengikuti petunjuk Allah Swt. dan bersiap-siap untuk berjumpa Allah Ta’ala yang maha dimintai pertolongan”.
Boys and gals, anggaplah sebuah lempengan besi seharga 50 rupiah. Kalo besi tersebut dicetak dalam bentuk baut, harganya pun berubah menjadi lebih mahal, mungkin jadi 500 rupiah. Kalo dicetak dalam bentuk pisau, harganya bisa jadi ribuan rupiah. Lain lagi kalo dicetak menjadi arloji, harganya bisa menjadi ratusan ribu dan bahkan jutaan rupiah.
Waktu ibarat lempengan besi. Sejauh mana upaya yang dicurahkan untuk mengelola, mengorganisir dan mengoptimalkan pemanfaatannya, maka sejauh itu pula harga yang dimilikinya. Selain itu kita juga kudu inget kalo waktu adalah modal paling unik yang kita punya, karena modal tersebut tidak mungkin diganti dan tidak mungkin disimpan dulu baru kita pake nanti. Dan kita juga tidak mungkin membeli waktu yang kita butuhkan. So, artinya waktu adalah sesuatu yang tetap, tidak bisa diganggu-gugat, so take it or leave it.
Momen awal tahun dan cara pemanfaatannya
Karena kebetulan pas banget artikel ini dengan awal tahun 1431 hijriah dan bertepatan dengan tahun 2010, so mari kita gali lebih dalem bagaimana kita bisa memanfaatkan momen awal tahun untuk bisa mengoptimalkan pemanfaatan waktu kita setahun ke depan.
Pertama, permasalahan utama dalam pemanfaatan waktu adalah banyaknya kegiatan atau keinginan yang pengen kita kerjakan namun terbatasnya waktu yang kita punya. So, langkah pertama kita harus menentukan target/prioritas tahunan kita. Prioritas adalah semua hal yang kita anggap penting untuk bisa terlaksana. Namun perlu diingat, prioritas di sini tidak boleh bertentangan dengan Islam. Itu sebabnya,  jangan deh merencanakan mau ngerampok, maling ato nyopet, mending cari prioritas lain yang lebih syari semacam, naik haji, qurban, atawa bisa sadaqah reguler.
Kedua, untuk membuat prioritas dapat dimulai dengan menuliskan semua hal yang ingin kamu capai/kerjakan dalam tahun ini. Setelah daftar selesai, kemudian buatlah prioritas mana yang lebih penting untuk dicapai terlebih dahulu. Langsung susun ulang daftar target tahunan kamu sesuai dengan skala prioritasnya. Bila daftar sudah selesai, coba cross check dengan orang lain mengenai daftar prioritas tahunanmu. Ini penting untuk memastikan kita telah menyusun prioritas dengan optimal. Oya, ini karena manusia cenderung menyusun prioritas sesuai dengan keinginannya/hal yang disukainya, bukan berdasar pada hal yang diperlukannya/dibutuhkannya.
Ketiga, bila target tahunan sudah dibuat, pikirkan kapan target tersebut mau dicapai dalam tahun ini. Misal pengen bisa zakat fitrah tahun ini, kudu dilihat di kalender kapan bulan ramadhan akan tiba tahun ini. Jangan sampai kelewat bulan ramadhan baru inget, itu namanya pengen doang tapi nggak serius. Nah, untuk memastikan kita tidak lupa, bisa dengan cara tandain tuh kalender di kamarmu, atau tempel target tahunanmu di dinding kamar plus masukin semua target kamu dan waktunya ke remainder HP kamu. HP jangan hanya dipake untuk facebook-an ama sms-an doang.
Keempat, bila target tahunan sudah beres, saatnya untuk break down ke target bulanan. Sesuaikan dengan target tahunan kamu yang ingin dicapai. misal pengen bayarin zakat harta, kudu dihitung dari awal, berapa jumlah uang yang harus kita keluarkan untuk zakat tersebut. Kalo kudu nabung dulu, bisa direncanakan dari awal tahun, kapan kita mulai nabungnya. Dalam membuat target bulanan bisa juga kita tambahkan jadwal ibadah sunah tahunan.  Misalmnya, kapan kita harus puasa sunah dalam setahun. Kalo ramadhan kemaren bolong-bolong puasanya, bisa kita rencanakan kapan untuk meng-qodhonya sebelum datang ramadhan tahun ini, dan sebagainya.
Kelima, bila target bulanan sudah beres, masukkan ke dalam remainder kamu, bisa berupa kalender yang dicoret-coretin, diary, remainder HP kamu ato semua sistem yang biasa kamu pake untuk mengingatkan kamu, akan hal-hal yang penting.
Keenam, dengan metode yang sama, bisa kamu gunakan untuk menyusun target mingguan dan harian kamu. Cuma dari pengalaman gue, sebaiknya berhenti sampai target mingguan saja. Sebab, gue pernah bikin. Di awal gue bikin target gue sampai harian. Eh, yang terjadi alhamdullilah memang kepengenan gue banyak yang tercapai. Cuma kemudian kita jadi nggak manusia lagi, loh? Jadi setan? Nggak juga, cuma kita jadi cenderung selfish (mementingkan kepentingan kita sendiri). Kita jadi ngga flexsibel lagi, karena bagaimana pun juga, pasti akan muncul hal-hal yang sifatnya aksidental dan tidak bisa kita prediksi sebelumnya. Sebagai manusia kita harus bisa mengakomodasi perubahan mendadak ini, dan tetap mempertahankan kemampuan kita sebagai makhluk yang luwes dan mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan realita di sekitar kita. So, tidak perlu kamu menyusun jadwal sampai detail sekali, karena harus tetap disediakan waktu untuk hal-hal yang tidak terduga.
Ketujuh, pindahkan target yang belum tercapai dalam satu minggu ke minggu berikutnya dan jangan sampai target mingguan meleset lebih dari satu bulan. Demikian juga dengan target bulanan yang meleset, jangan sampai target tersebut meleset lebih dari 2 bulan. Selalu perhitungan waktu cadangan untuk hal-hal yang di luar perencanaan kita. Satu-satunya cara untuk memastikan target kita selalu on schedule adalah keseriusan kita sendiri untuk mengelola hidup kita. Kalo kita sendiri tidak serius mengelola hidup kita, terus siapa lagi?
Kedelapan, untuk menjadikan target kita tetep realistis, secara reguler siapkan waktu untuk mengevaluasi target kita. Oya, kalo mau mengevaluasi target bulanan waktu yang paling baik adalah awal bulan. Demikian juga untuk evaluasi target mingguan, paling pas dilakukan diawal minggu. Dalam melakukan evaluasi. coba kenali kegiatan kamu yang sifatnya dinamis. Pergi ke sekolah dan les, adalah dua contoh kegiatan yang waktunya tetap alias nggak dinamis. Kegiatan semacam ke toko buku, ke pasar atau bahkan ngaji bisa dikategorikan kegiatan dinamis, karena tidak begitu pasti kapan selesainya, kita hanya bisa memperkirakan saja. Alokasikan waktu yang cukup untuk kegiatan yang sifatnya dinamis dan hindarkan dari berbagai hal yang bisa memalingkan kita dari kegiatan yang sifatnya dinamis tersebut.
Kesembilan, padukan aktivitas yang serupa dan kenalilah aktivitas yang dapat dilakukan secara beriringan. Hapus aktivitas tidak penting dari daftar targetmu. Delegasikan tugas yang memungkinkan untuk didelegasikan ke orang lain. Selalu bersiap untuk berinteraksi dengan hal-hal darurat, bila datang sebuah tugas darurat (di luar rencana) segera evaluasilah dan sesuaikan dengan targetmu.
Kesepuluh, setiap orang memerlukan waktu istirahat/waktu luang. Nah, karena hal ini merupakan kebutuhan, maka harus direncanakan juga. Rencanakan waktu istirahat/refreshing kamu dengan baik. Gunakan waktu luang kamu untuk dirimu sendiri, berinteraksi dengan teman, keluarga dan lingkunganmu. Coba atur dan seimbangkan kehidupan kamu antara ibadah, mengejar target kamu dan berinteraksi dengan lingkungan di sekitarmu.
Kesebelas, nggak perlu menjadwal setiap detik waktu kamu, karena ini sudah termasuk dalam hal berlebih-lebihan, tetap jadikan jadwal kamu se-fleksibel mungkin, dan selalu siap terhadap hal-hal di luar rencana. Sehingga bila hal tersebut terjadi, kita bisa mengantisipasinya dengan baik.
Keduabelas, semua ini membutuhkan keseriusan. Jadi jangan setengah-setengah kalo kamu mau mengeksekusi jadwal tahunan kamu, siapkan dengan matang rencana dan keperluan lainnya jauh-jauh hari, dan tetep semangat dalam meraih target-target tahunan kamu, jangan mudah menyerah. Ingat, keinginan memerlukan keseriusan, tanpa keseriusan percuma!
Kesimpulan
Sebagai seorang muslim, mengatur waktu sama halnya dengan mengatur hidup kita. Ada bagian yang telah diatur dengan jelas oleh syariat dan ada bagian yang kita bebas mengaturnya. Tanpa perencanaan yang matang terhadap penggunaan waktu dalam hidup kita, akan menjadikan waktu yang kita lewati berlalu begitu saja, percuma tanpa makna dan manfaat, baik bagi dunia maupun akhirat kita. Rasullullah saw. bersabda (yang artinya): “Penghuni surga tidak menyesali sesuatu, melebihi penyesalannya pada waktu yang dilampauinya tanpa mengingat Allah Azza wa Jalla” (Ibnu Katsir, dalam al-Bidayah wa an-Nihayah)
Tuh Bro, orang yang sudah masuk surga saja menyesal, karena berlalunya waktu percuma tanpa tanpa ibadah, apalagi kita yang belum tentu masuk surga. Yuk, sudah seharusnya kita lebih berhati-hati dalam merencanakan waktu kita, dan selalu menempatkan waktu dalam posisi yang tinggi. Semoga artikel ini bermanfaat dan pastikan hanya Allah Swt. sajalah yang ada dalam setiap hal dan langkah kita. Sebab, segalanya kita lakukan demi meraih ridhoNya. Semangat! [aribowo | aribowo@gaulislam.com]

Minggu, 24 Oktober 2010

PERMOHONAN BANTUAN QURBAN





Assalamu'alaikum Wr.Wb

Sahabat2 SMART, ga' trasa y bntar lg qt akan menghadapi "Lebaran Haji"...oh y, biasany kan pas lebaran haji atau Idul Adha suka ada yg qurban tuh...nah, qt jg Insya Allah mw ngadain kegiatan tebar hewan qurban k daerah2 pelosok...

Tempat yg akan qt kinjungi tuh namany Kp. Palintang Desa Cipanjalu Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung (wuihhh...lengkap banget y..hehe)...u itu, barangkali sahabat2 SMART pngen ikut berpartisipasi dlm kgiatan tsb...qt mah ayo-ayo az...

Bagi yg mw ikut qurban, silakan hubungi bagian sub kegiatan di nomor 022-95337797...atw yg mw transfer dlm bentuk dana jg d persilakan...nih no rekeningnya 000-6216-285-100 a.n LSM SMART d Bank Jabar & Banten (klo skrang mah namany BJB)...atw k rekening 131-000-6262-069 a.n R. Rian Rahmat Ibrahim d Bank Mandiri...nah,klo sahabat2 SMART dah transfer, langsung konfirm y k no d atas...

Ba'da qurban, laporan kgiatan qt bs d liat d web ini...dpt d liat sapa az yg qurban...brp hewan qurban...brp orng yg dpt daging qurban...sampai jumlah yg makan...hehehe

Trakhir, kmi smua memohon pd Allah smoga kgiatan ini dpt berjalan lancar sbagaimana rencana yg tlah d susun bersama...amiiin

Wassalamu'alaikum

Selasa, 12 Oktober 2010


Assalamu'alaikum wr.wb

Sahabat-sahabat SMART, Alhamdulillah atas do'a dan dukungan sahabat-sahabat semua Kami dapat melaksanakan LAUNCHING RUMAH ILMU SMART. Diresmikan oleh Bapak Camat Cilengkrang dengan dihadiri oleh lebih dari 100 orang loh....

Mudah-mudahan, RUMAH ILMU SMART ini dapat menambah khasanah keilmuan sahabat-sahabat semuanya... So...klo ada waktu...silakan dateng az langsung ke Sekretariat RUMAH ILMU di Jalan Sekehaji Blok G-2 No. 94...

Wassalamu'alaikum wr.wb

Jumat, 24 September 2010

SEMANGAT UNTUK ALLAH SWT



























Ku akan berlari menyingsing panggung sandiwara yang sejenak menepi....
Meski lelah kesuh mewarnai perjuangan yang tak bertepi..
Kejenuhan datang berganti...
Ujian yang tak berfaham menaungi...
Walau akhirnya selalu ada permata dibalik duri ujianMu..
Ku kan kibarkan semangat jalan juang untuk Allah..
Ku yakin,
Di pandangan Allah tak ada yang sia-sia...
Ya robby...
Teguhkan hatiku bahwa kaulah yang ku tuju..
Hingga tak ada keputus-asaan mengurangi langkahku..
Maju trus tuk gapai ridhaMu...
Hingga di titik akhirku bisa melihat WajahMu

By spirit of jihad
Continue....................

Senin, 29 Maret 2010

BULETIN DIRI

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Apakabar Sahabat SMART? Semoga kita selalu diberi kesempatan untuk saling berbagi inspirasi.

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu”

Sahabat, mewaknai motivasi yang begitu indah dari Ustd. Rahmat Abdullah, rasanya harus ada keberanian mengakui (terutama penulis), bahwa kita begitu tertegun terpesona dengan rangkaian kata kata indah itu, tapi sekaligus juga mengkelukan lidah, mengkakukan langkah, karena betapa sulitnya untuk mentauladani motivasi indah tersebut.

Seringkali terdiam gerak kita karena lelah, seringkali terhenti lari kita karena bosan, seringkali terduduk jalan kita karena letih, seringkali jebol pertahanan karena futur.

Sahabat, bukankah sebuah bangunan itu akan terlihat indah sempurna tatkala kuasan cat terakhir sudah disapukan, letakan genting terakhir sudah disematkan, dan beberapa hiasan dinding dipajangkan, lalu apa yang membuat kita berhenti lalu pergi meninggalkan gundukan pasir, tumpukan bata dan bongkahan batu?

Bukankah buah itu akan ranum mengharum setelah daunnya rindang dan berdahan kokoh, lalu kenapa tak lagi menyirami tunas?

Bukankah hasil itu akan nampak dipenghujung, sementara kita tersepakati untuk menikmati proses, lalu dengan alasan apa kita hentikan langkah?

Bila kuantitas tidak menjadi pemberat, lalu kenapa kita remehkan remah remah itu.

Ataukah kita sedang terperosok didalam kubangan lumpur kekurangan lalu kita keasyikan menghitung lumpur yang menempel?, karena seharusnya kita terus berlari sambil membawa luluran lumpur itu dibadan, sehingga kelak kita bisa melihat lumpur mana saja yang sempat menggelincirkan kita.

Bagi sebagian kita mungkin saja menganggap buah tangan kita terlalu usang atau dinilai tidak berharga, tapi kita juga tidak pernah tahu karya itu sesuatu yang baru dan berharga bagi yang lain.

Bagi sebagian kita mungkin saja tidak terlalu memusingkan harus membuat dan berbuat apa, tapi siapakah yang tahu diluar sana ada belasan orang atau beberapa orang atau setidaknya seseorang yang sudah merasa kelamaan menunggu karya sepele kita bisa kembali hadir, atau bahkan hanya sekedar menunggu sapaan kita.

Boleh jadi kita tidak begitu menyadari bahwa sebenarnya goresan karya kita sesungguhnya adalah wajah atau bahkan jantung yang begitu berarti dari bangunan yang sudah mulai kita susun.

Lalu jika sudah menanggap bahwa ini adalah hasil akhir, maka teruskanlah perhentian itu atau jika kita merasa ini adalah kubangan, maka raihlah remah remah itu lalu bersusah payahlah kembali menyusunnya.


Diposting untuk www.lsmsmart.blogspot.com

Senin, 08 Maret 2010

Try Out 4 UN


Assalamu'alaikum sahabat2 SMART...
gmn kabarny??g trasa ya waktu ini bergulir??
sbntar lagi udah mau kelulusan skolah...ada yg mau lulus SD...lulus SMP...atau lulus SMA...pertanyaanya, siapkah qt untuk ngelakuin ujian kelulusan???????
bnyak orang yg keburu stres kalo inget dg UJIAN NASIONAL...padahal, blm tentu qt g bisa..tp, krn udah stres dluan...hapalan yg dah qt hapal az bisa lupa semua (apalagi yg belom qt hapal...hehehe).
makany, untuk latihan UJIAN NASIONAL, qt nih (red. LSM SMART) mw ngadain Try Out 4 UN...spaya sahabat2 smua lebih PD pas UJIAN NASIONAL sesungguhnya...
Informasiny bs d liat d pamflet sebelah y...d tunggu kdatangannya....salam sukses u smua...
Wassalamu'alaikum...

Sabtu, 06 Maret 2010

Hadir Kembali Generasi Baru SMART

Alhamdulillah...tepatnya 5 Maret 2010 kurang lebih pukul 15.30 wib. Telah lahir satu lagi Generasi baru Mujahidah SMART dengan berat 2,99 kg dan tinggi 49 cm di Rumah Sakit Al-Islam Bandung melalui operasi caesar.

Kebahagiaan tak terkira terpancar dari wajah-wajah pejuang SMART, terutama "Sang Bunda"...ya, Bunda Restu Qta akrab menyapanya.

Kami segenap kru SMART mengucapkan "Selamat Atas Kelahiran Putri Pertama dari Yayan Setiawan dan Restu Handayani". Semoga menjadi orangtua yang amanah dan Putri tercintanya menjadi anak yang Sholehah...Amin.

Kamis, 18 Februari 2010

Senin, 15 Februari 2010

KEMATIAN HATI

Ust. Rahmat Abdullah
Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan tuhannya.

Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang Allah berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan Allah atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang. Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.


Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya kepada khalayak. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan banyak orang karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan ambisi pribadinya, atau tidak mau kalah atau tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dan kata.

Dimana kau letakkan dirimu? Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut, sampai sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat obyek ma’siat menggodamu dan engkau menikmatinya? Malu kepada Allah dan hati nurani tak ada lagi.

Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani bertambah tinggi. Rasa malu kepada Allah, dimana kau kubur dia? Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU 25 % mengaku telah berzina dan hampir separuhnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan perkosaan, walaupun pada saatnya mereka memperkosa.

Dan masyarakat memanjakan mereka, karena “mereka masih dibawah usia”. Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan - bila engkau laki-laki atau sebaliknya (akhi dan ukhti)- di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh”

Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat”? Saat engkau mau muntah melihat laki-laki berpakaian perempuan, karena kau sangat percaya kepada ustadzmu yang mengatakan “ Jika Allah melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?”Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama dan yang paling tinggi berteriak “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, lalu sesudah itu urusan kesendirian tinggallah antara engkau dengan lamunanmu, tak ada Allah disana?

Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Kau yang tak mampu melawan berontak hatimu untuk tidak makan berdiri di tengah suatu resepsi mewah. Berbisiklah syaithanmu : “Jika kau duduk di lantai atau di kursi malam ini citra da’wah akan ternoda”. Seakan engkau-lah pemilik da’wah ini.

Lupakah kau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter. Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, tak lain karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu. Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”-nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, Allah waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah? Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam seperti ayah, bahkan lebih dekat lagi”

Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama? Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam organisasinya? Kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat masyarakat awam? Bukankah ini mengkomersilkan kekurangan masyarakat? Koruptor macam apa engkau ini? Semoga ini tak terjadi pada dirimu, karena kafilah yang pernah berlalu tak sunyi dari peruntuh bangunan yang dibina dengan susah payah.

Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mall. Betapa besar sumbangan mereka kepada Amerika dan Zionis dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk makanan mereka, semata-mata karena nuansa “westernnya”. Engkau akan menjadi faqih pedebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”. Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri.

Mahatma Ghandi memimpin perjuangan kemerdekaan India dengan kain tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana. Bila ia minta bangsanya mendongakkan kepala dengan bangga, maka 300 juta bangsa India akan tegak, walau-pun tulang punggung mereka tak kuat lagi berdiri karena lapar dan kurang gizi.

Kini datang “pemimpin” ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil dan rumah mewah serta hidup di tengah gemerlap kehidupan selebritis. Saat fatwa digenderangkan, ummat tak lagi punya kemauan untuk mendengar. “Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku”…
Di posting oleh www.lsmsmart.blogspot.com

Senin, 25 Januari 2010

HITORI (HITam pOetih Remaja Islam)

Ramli, Si Raja Chatting
Author: Abu Aufa

Kenal dengan Ramli? Yang suka chatting mungkin kenal banget, karena konon Ramli ini adalah si Raja Chatting. Sahabat sejatinya adalah sebuah komputer, tempat ia tiap hari online dari malam sampe' pagi, bahkan konon lupa mandi ama gosok gigi, pokoknya udah kaya' orang semedi.

Nah, suatu hari pas chatting, Ramli 'buzz-buzz'-an ama Putri, kenalan, eh... akhirnya Ramli bilang wo ai ni. Tambah girang, karena dijanjiin dikirimin foto via DCC, Ramli pun senyum, tertawa, ha ha ha ... hi hi hi ... Ramli gembira, hatinya berseri-seri. Namun, waktu nerima photo, blep..., listriknya mati. Yaa... kesian banget si Ramli, ihik...ihik...

Akhirnya mereka janji ketemuan. Ramli duduk menanti, tak lama Putri pun datang menepati janji. Ramli terpana, mulutnya menganga, karena ternyata si Putri itu adalah kekasih Ramli. Ramli si Raja Chatting tertipu, namun ia tak jera, malam ini Ramli chatting lagi. Ih... gak kapok ya si Ramli!

Hmm...di era yang serba komputer seperti saat ini, chatting bisa sebagai sarana komunikasi. Bisa nulis untaian kata indah plus menyentuh hati kepada lawan jenis, rayuan biasa, rayuan pulau kelapa, hingga rayuan gombal, glek !!! Demikian canggihnya, sampe bisa kirim-kiriman photo, teleconference, webcam, dll, namun chatting bisa juga sebagai sarana silaturahim dan saling memberikan tausyiah.

Emang kalo gak mau dikatakan 'gaptek', kudu gaul, ikut perkembangan teknologi. Kalo diajak ngomong masalah teknologi, kudu nyambung, daripada dibilang kuper. Namun, waspada juga, karena kadang tanpa disadari norma-norma pergaulan bisa sedikit demi sedikit bergeser. Yang dulunya menundukkan pandangan kalau berbicara langsung, kini ha ha ha ... hi hi hi ... di ajang chatting, meski satu sama lain belum kenal.

Akhirnya, lambat laun hari-hari para netters itu seperti Ramli, si Raja Chatting. Kagak peduli mandi boro-boro gosok gigi, tiap hari cuma didepan layar komputer untuk tebar pesona, kata-kata mesra, kasih sayang dan janji untuk merenda masa depan bersama. Amboi... uendah nian!!!

Bohong-bohongan tentang data pribadi pun jadi lumrah, karena itu Ramli gak tau kalo Putri itu sebenarnya kekasihnya sendiri. Uups!!! Bukan membolehkan 'kasih-kasih'-an lho, maksudnya dalam dunia chatting, gak ada siapapun bisa menjamin dengan siapa sebenarnya ia ber-chatting ria.

Secara fisik, chatting memang tidak membuat 2 orang yang bukan mahram menjadi berduaan/khalwat. Karena patokan ini, dikhawatirkan di kalangan remaja Muslim ada yang berpendapat, "Boleh aja kan chatting, lebih aman, daripada ketemu langsung dengan resiko berkhalwat!" Apa iya sih?

Dalam chatting, zahirnya emang tidak ada hal-hal yang dilanggar dalam hubungan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram. Namun gak cukup hanya itu aja kan, karena kita juga harus melihat kecenderungan umum yang terjadi, lalu juga liat gimana dampak psikologisnya. Bukankah kesempatan chatting itu juga bisa memberikan kesempatan untuk berbicara yang sifatnya pribadi? Bahkan, bisa tambah parah kalau udah masuk ke hal-hal yang kurang etis, 'parno' dan hal-hal negatif yang lain. Topik yang tidak mungkin dibicarakan secara verbal dengan bertatap muka, justru lebih leluasa dilakukan dengan chatting.

Jadi permasalahannya, apakah chatting itu secara umum melahirkan hal-hal yang lebih jauh atau tidak? Misalnya, copy darat seperti Ramli dan Putri? Juga apakah dialog itu menjurus ke hal-hal 'parno' atau tidak sesuai dengan norma-norma Islam? Kalo menjamin tidak melanggar syariat Islam, gak ada masalah kok. Tapi, bisa menjamin gak? Karena meski secara fisik tidak terjadi khalwat, secara psikologis bisa lebih jauh dan lebih kuat.

Nah... karena itu kita butuh kiat-kiat gimana sih 'chatting yang sehat'.
Yakinkan diri dan hati ini, kalo chatting itu bisa sebagai sarana dakwah, saling mentausyiah, bukan untuk menebar kata-kata mesra nan cinta. Memulai dengan satu kata cinta, bisa menggoda jutaan kata cinta lainnya muncul lho. Katanya sih 'temen' kok ya jadi 'demen', glek!!!
Kadang dari hati ini bisa muncul hasrat yang cenderung pada nafsu, karena itu jaga sikap dan kata-kata untuk tidak merusak dan menghilangkan tujuan dari ta'aruf dan ukhuwah itu sendiri. Ta'aruf itu sendiri kan untuk saling mengenal, demikian juga ukhuwah, bisa nambah saudara. Lha, kalo belon apa-apa kata-katanya udah ngajak 'perang', wah... bisa-bisa yang muncul di monitor adalah 'kata-kata aneh bin ajaib'.
Jangan terjebak pada permainan kata-kata, katanya sih mau ngasih perhatian, tapi kok berlebihan, kaya' suami istri aja. Kata-kata manisnya, "Jangan lupa makan ya, ntar sakit lho, kan jadi gak bisa chatting lagi!", atau "Duh... kamu pasti manis deh, keliatan dari tulisannya" atau juga "Kalo udah mau tidur, sebut namaku dalam hatimu ya, dan mimpikan diriku, bla...bla...bla..." Gedubrak!!! Kudu ati-ati nih kalo nemu netters kaya' ginian. Lha, ketikan di layar monitor dimana-mana kan sama aja, gimana bisa tau yang nulis manis! Lagian kalau mau tidur kok nyebut nama si doi, gak diajar tuh ama Rasulullah SAW.
Jujur dong kalau ditanyakan data pribadinya, karena kalau sesuatu udah dimulai dengan kebohongan atau sesuatu yang tidak baik, gimana bisa menjamin proses selanjutnya? Inget lho, biasanya orang kalau udah dibohongi sekali aja, gak bakalan kudu percaya lagi. Kata orang Jepang, shinjirarenai!!!
Kalo emang hal ini berat, gak bisa jamin gak terjadi zina hati, sebaiknya hindari deh chatting dengan lawan jenis, kecuali dengan suami atau istri sendiri, curhat gak mesti dengan lawan jenis kan? Kalo maksa juga harus curhat dengan lawan jenis dengan resiko gak bisa jaga hati, solusinya kudu cepet nikah, jadinya chatting dengan pasangan sendiri, insya Allah 100% halal!!!
Chatting itu kan hanya sebuah alat, karena itu maslahat atau mudharatnya tergantung ke kita-kita juga, mau cari kebaikan atau sebaliknya. Kalau untuk kebaikan, insya Allah memperoleh pahala, demikian juga sebaliknya.

Wallahu a'lam bishshawab.

*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,

diposting untuk www.lsmsmart.blogspot.com

BULETIN SMART EDISI 2 (catatan pengantar)

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Apakabar sahabat Smart?, semoga kita selalu terjaga dari komitmen2 yang pernah kita tanam, semoga juga kita selalu terhangatkan oleh semangat2 yang pernah kita bakar.
Sahabat Smart, selalu kita mengatakan terlalu cepat berlalu, pada waktu2 yang pernah kita lalui, dan memang bergitulah sang waktu selalu tanpa berkompromi terus melaju kencang, dan kita semua berharap bisa memanfaatkan waktu yang dimiliki sebaik mungkin.
Alhamdulillah, memasuki bulan kedua di Tahun 1431H kembali kami menjumpai sahabat melalui Buletin Smart edisi 2, buletin Smart kali ini tampil dengan rubrik2 bagi remaja. Mudah mudahan bisa menjadi sarana silaturahim dan semoga ada manfaat yang bisa diambil.



Rabu, 20 Januari 2010

COWOK KOQ GEULIS EEH GIRLISH..??

Tampang macho tapi dandanan feminin, malah centil. Bukan bencong, tapi ngakunya pejantan tangguh. Itulah cowok-cowok girlish. Sekedar mode, atau ada yang lain?
Tampang sih macho, tapi dandanan? Ya ampun girlish abis! Bajunya junkies, celana gombrang, ada juga yang nekat piercing anting di kuping. Belum lagi asesoris cewek macam ikat rambut. Kadang dipake buat ngiket rambut yang gondrong, atau dijadiin gelang di tangan. Kalau perlu rambut juga ditoning atau diwarnain. Pokoknya, girlish total!
Apa sih girlish?
Menurut Webster New Word Dictionary “girlish” itu adalah: of, like, or suitable to a girl or girlhood. Artinya, cowok yang berpenampilan ala cewek. Gaya macam gini nggak cuma didominasi para bencong alias abal-abal. Cowok-cowok yang normal juga suka berdandan girlish. Vokalis Slank, Kaka, misalkan dulu sering pake baju junkies, ketat, transparan macam cewek-cewek. Setali tiga uang ama Andi adalah vokalis grup asal Bandung /rif. Kalau kamu simak penampilannya di layar kaca terkadang suka ditambah make up yang agak medok, termasuk lipstick. Gaya make up medok itu juga diperagakan oleh grup asal Inggris Duran Duran yang ngetop tahun 80-an. Sebelumnya ada penyanyi yang udah bangkotan, David Bowie tampil dengan gaya glam rock. Genit persis cewek-cewek.
Boyz, jaman sekarang emang nggak ada aturan yang ngelarang dandanan. Mau pake apa aja dan bergaya apa aja boleh. Itu kan hak asasi manusia. Tapi, pantes nggak sih cowok ber-girlish ria? Gimana juga cowok girlish di mata cewek?
Ati-ati Bro!
“Geli!” kata Pratiwi, seorang cewek yang berhasil dihadang SODA. Cewek keling-manis yang bentar lagi diwisuda ini ngaku nggak suka ama cowok-cowok yang girlish. “Cowok itu bagusnya tampil rapi deh,” ia ngasih alasan. Di kampusnya sendiri ada beberapa teman kuliahnya yang tampil girlish. Lahir-batin sih mereka normal, alias nggak punya kecenderungan aneh. Cuma ya itu aja, suka berdandan girlish. Pratiwi ngaku jadi geli ngeliatnya.
Tuh, boyz, simak deh pandangan cewek soal dandanan. Meski di negeri ini soal dandanan nggak jadi persoalan, tapi apa mau dipandang geli ama cewek-cewek? Niatnya mo tampil keren eh malah diketawain ama orang-orang. Kan nggak lucu.
Tapi buat mereka yang udah ngerasa nyaman dengan dandanan centilnya pandangan orang lain ya kagak ngaruh. Kalau pikiran dan badan udah ngerasa enak dengan gaya girlish, jalan aja terus. The show must go on.
Soal kecenderungan cowok tampil girlish juga dipengaruhi dunia mode. Hari gini, para perancang mode suka bikin macam-macam jenis baju. Ada baju yang memang dirancang khusus untuk cowok. Tampilannya jelas maskulin. Kaos, kemeja, celana panjang, ataupun jasnya memang khas untuk memperlihatkan sisi maskulin para cowok. Ada juga jenis pakaian yang unisex. Yakni pakaian yang emang dirancang untuk bisa dipakai oleh kaum pria ataupun wanita. Tapi yang bikin kita ber-istighfar adalah pakaian cewek tapi dipakai oleh para cowok. Inilah yang disebut girlish. Meski kata perancang busana itu sah-sah aja, tapi bener itu sah?
Dress Code Cowok Muslim
Bro, soal pakaian sebenarnya bukan cuma urusan kain nempel di badan. Berpakaian itu kudu memperhatikan soal etika dan estetika. Hukum dan keindahan. Paling pokok ya soal hukum, keindahan sih nomor sekian. Yup, agama kita udah ngajarin dengan detil banget soal berpakaian. Fungsi pokok pakaian adalah menutupi aurat. Buat para cowok, aurat itu ada di antara pusar sampai bagian lutut. Dengkul alias lutut sendiri bukan aurat, tapi yang ada di atas lututlah auratnya. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Janganlah menampakkan pahamu dan janganlah melihat paha orang yang masih hidup dan telah meninggal.”
Imam Abu Daud dan Tirmidzi juga pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah menegur seorang sahabat yang tersingkap kainnya sehingga nampak pahanya. “Apakah engkau tidak tahu bahwa paha adalah aurat?”
Selain menutup aurat, ternyata para cowok juga punya batasan lain dalam soal berpakaian, yakni dilarang memakai memakai sutra. “Telah diharamkan memakai sutra dan emas bagi kaum pria dan dihalalkan bagi kaum wanita di antara mereka.”(hr. Tirmidzi). Beliau juga menambahkan, “Sesungguhnya (pria) yang memakai sutra adalah mereka yang tidak mendapat bagian di akhirat.”(hr. Bukhari, Muslim). Lebih jauh lagi Nabi saw. bilang bahwa sutra dan emas adalah pakaian untuk kaum pria di surga. So, be patient, Bro! Sabar aja sampai kita masuk surga.
Sekali waktu pernah juga sih Rasulullah saw. ngasih izin kepada dua orang sahabat untuk memakai sutra. Yakni Zubair bin Awwam dan Abdurrahman bin Auf radliallahu anhuma, karena keduanya menderita gatal-gatal jika memakai pakaian dengan bahan biasa. Artinya, ini hanya berlaku dalam keadaan darurat, buat para cowok yang sakit kulit dan hanya bisa memakai sutra.
Soal girlish gimana? Ini juga dijelasin oleh Islam. Nabi saw. sudah bikin penjelasan kalau cowok dan cewek emang beda. So, jangan disama-samain. Bukan hanya soal mental dan biologisnya, tapi display-nya alias penampilan luarnya emang kudu beda. Cewek punya asesoris tersendiri yang kagak bisa dipinjem oleh mahluk cowok. Mulai dari anting, kalung, sampai pakaian. Untuk para cewek Allah sudah mewajibkan mereka memakai kerudung dan jilbab saat berada di tempat umum. Tapi selain kerudung dan jilbab, mereka boleh saja memakai celana panjang (khas cewek), rok, kaos dan kemeja di tempat-tempat khusus, atau di antara sesama cewek lagi.
So, cowok udah dibatasi nggak boleh memakai asesoris dan pakaian yang jadi “kebangsaan” para cewek. Dalam satu hadits disebutkan, “Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang meniru perempuan dan perempuan yang meniru laki-laki.”(hr. Bukhari).
Bro, kalau kamu cowok tampilin dong sejatinya seorang cowok. Gentle dan macho, tinggalin asesoris yang girlish, yang bikin cewek-cewek jadi geli. Ini cowok atau mahluk hermaphrodite? Berkelamin ganda? Udah gitu, nggak ada itungannya dalam Islam seorang cowok tampil girlish. Bersih dan fresh itu nggak mesti girlish. Cowok sejati juga bisa tampil begitu. Nggak percaya, buktiin aja sendiri. [januar]
[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi 14/Desember 2005]
diposkan di www.lsmsmart.blogspot.com


Kamis, 14 Januari 2010

GLOBAL WARMING

Pagi-pagi saya terbangun untuk shalat shubuh, setelah selesai saya langsung menyalakan computer dan mengutak-ngatik beberapa program hingga beberapa jam. Kurang lebih pukul 07.30 saya keluar rumah untuk merasakan segarnya udara di pagi hari, tapi rasanya qo aneh ya udara yang terhisap kedalam tubuh tidak sesegar waktu dulu, ketika itu saya menginjak SMP ! apakah memang udara yang kita rasakan pada saat ini kesegarannya berkurang, apa y penyebabnya ???

Memang tak terasa semakin hari keadaan bumi kita ini semakin memprihatinkan, terlihat dari meningkatnya suhu rata-rata Bumi. Penyebabnya adalah Global Warming, hal ini memang berdampak secara langsung terhadap kesehatan tubuh manusia. Trus apa yang menyebabkan Global Warming? Penyebabnya adalah meningkatnya emisi karbon akibat penggunaan energi fosil (minyak, batubara dan sejenisnya), dan yang memberikan sumbangan besar terhadap gejala ini adalah Negara-negara industri seperti Amerika dan sekutunya.



Menurut James Lovelack salah seorang pendiri Greenpeace mengatakan bahwa "Dampak pemanasan global inilah yang sebenarnya dapat mengakibatkan punahnya spesies manusia, sebab dampak dari perang nuklir tidak akan menciptakan kerusakan seluas dan sebesar seperti pemanasan global." Dan menurut dia juga bahwa kehancunran akibat Global warning ini tidak dapat dihindari, yang dapat kita lakukan adalah hanya berusaha untuk memperlambat terjadinya kiamat ini. Dan suatu saat nanti kita akan sering disuguhkan dengan berbagai bencana alam seperti banjir, tsunami, gempa, dan badai secara rutin. Serta Kemungkinan kenaikan suhu sampai 6,4 C yang mengakibatkan mencairnya es maupun glasier, sehingga akhirnya kutub utara pun akan menghilang dengan sendirinya (sumber: taman Hidup).

Lapisan ozon bumi kita pun terus menipis terasa dari semakin meningkatnya intensitas sinar ultra violet yang dapat mengakibatkan Kanker kulit, Katarak, penurunan daya tahan tubuh, dan pertumbuhan mutasi genetic. Kalau kita pernah membaca mengenai menghilangnya benua atlantis dan sumeria akibat gejala yang hampir sama, itu membuktikan bahwa kerusakan ini memang benar-benar dapat menghilangkan suatu peradaban/benua yang telah maju sekalipun. Dan akhirnya kita sendiri sebagai suatu generasi yang memang diamanahkan untuk merawat planet ini, sudah saatnya untuk memulai langkah nyata baik untuk yang terkecil sekali pun.

Saya mengambil salah satu artikel (gang-camara-blogspot) yang berisi mengenai bagaimana untuk mengurangi dampak dari Global Warming tersebut diantaranya :
Transportasi
1. Hindari menggunakan pesawat terbang untuk jarak kurang dari 500 km.
2. Tinggalkan mobil di rumah untuk jarak yang tidak terlalu jauh.
3. Gunakan kendaraan umum, kurangi polusi.
4. Gunakan sepeda untuk perjalanan jarak pendek.
5. Matikan mobil jika menunggu lebih dari 30 detik.
6. Panaskan mobil seperlunya.
7. Periksa tekanan ban mobil. Kurangnya tekanan menyebabkan boros bahan bakar.
8. Turunkan barang dari bagasi jika tidak dibutuhkan.
9. Rawatlah sistem pengeluaran polusi kendaraan bermotor Anda.

Di Kantor dan Sekolah
1. Matikan perangkat kantor di malam hari dan saat libur.
2. Matikan monitor komputer saat istirahat.
3. Matikan lampu jika tidak digunakan.
4. Gunakan perangkat kantor hemat energi.
5. Lakukan audit energi untuk penghematan.
6. Jangan tinggalkan alat-alat elektronik dalam keadaan stand-by.
7. Hemat kertas dengan mencetak bolak-balik.
8. Hemat pemakaian tisu.
9. Mengurangi pemakaian AC, gunakan kipas angin.
10. Menanam pohon di sekitar pekarangan Anda.
11. Ikut mendukung kampanye pelestarian alam.

Di Rumah
1. Tutup kran air dengan rapat.
2. Hemat air untuk mandi.
3. Gunakan mesin cuci hanya jika cucian banyak.
4. Matikan lampu dan alat elektronik jika tidak digunakan.
5. Panaskan air untuk minum seperlunya.
6. Pilih alat elektronik hemat energi.
7. Gunakan lampu hemat energi.
8. Pasang pemanas bertenaga matahari di atap rumah.
9. Ganti tisu dengan lap kain.
10. Mengurangi pemakaian AC, gunakan kipas angin.
11. Menanam pohon di sekitar pekarangan Anda.
12. Ikut mendukung kampanye pelestarian alam.

Jumat, 08 Januari 2010

OUTBOND MUHARRAM SERRUUUU!!!!!

Jatinangor, 27 Desember 2009 10 Muharram 1431 H
Assalamu'alaikum....

Sobat SMART, masih inget kan sama kegiatan Outbond yang kita laksanakan dalam moment Muharram??!! So, pasti pada inget. Soalnya acaranya seru abizzz dech!!!
Bukan cuma karena gamesnya aja yang seru-seru, tapi rintangan sama tracknya yang cukup menantang bikin spot jantung dech...(hehehe...berlebihan bgt ya...). Rintangannya aja, dari yang cuma merem2 trus masukin pinsil ke botol sampe Spider Web ada lho....bahkan sampe ngerayap-rayap di rimbunan semak2 pun dilalui dengan gigih (yuhuu..pejuang sejati). Atau yang cuma nyanyi-nyanyi ("Marina Menari" red) melatih konsentrasi pun ada juga ..gimana fren??SERu khan??? Dan yang ga kalah seru...pas kita nyemplung tu ke danau Cek Dam Ikopin yang kalo di liat udah kaya susu coklat...sambil diminum enak kali ya...hehehehe...
Tapi, bener deh fren selain fisiknya di gojlok (kaya ospek aja ya...hehe..), tapi ilmu yang kita dapat juga ga kalah menariknya. Ditambah, di akhir acara ada muhasabahnya bikin kita terharu dan kembali berintrospeksi atas kehidupan kita di tahun 1430 H.
So...masih mau ngelewatin moment seru bareng SMART...Rugi bo...Jadi, Nantikan kehadiran kami dalam Kegiatan Dahsyat Berikutnya yaaaa....!!!:)
Salam SEMANGAT SMART...SMART..Goooooo!!!!!

Wassalamu'alaikum wr.wb..

Kamis, 07 Januari 2010

NIKMAT YANG TERLUPAKAN

Ketika mendengar seseorang dengan "seenak udel" meminum minuman keras ataupun melakukan perbuatan lainnya yang dapat nyebabin terganggu kesehatannya suka merasa aneh. Koq ada orang yang kaya gitu ya di dunia ini??padahal, kesehatan itu adalah salah satu kenikmatan yang diberikan Allah SWT pada kita. Ya Ngga??

Guys, biasanya manusia menganggap kenikmatan itu bersifat materi. Uang, rumah, tanah, dan sebagainya. Padahal, ada kenikmatan yang ga' bersifat materi. Seperti kesehatan. Coba kita liat di rumah sakit. Banyak saudara kita yang sedang menderita karena sakit. Makan ga' enak, tidur ga' nyenyak. Mereka cuma ngerasain sakit dan sakit. Apa mereka ga' menderita??

Coba kita bayangin kalo diri kita sendiri yang kaya gitu. Gimana rasanya sakit itu. Pasti kita sangat menderita. Bener ga' coy??

Ada satu cerita tentang orang yang sakit. Ini tentang Harun Al-Rasyid bersama Abu Nawas. Pada suatu hari, Harun Al-Rasyid bertanya pada Abu Nawas,"wahai Abu Nawas, berilah aku nasehat". Abu Nawas berfikir. Kemudian meminta segelas air. Setelah itu, baru bertanya,"apa yang akan engkau berikan pada orang yang memberi segelas air ini di saat engkau sangat kehausan di tengah padang pasir?"

Harun Al-Rasyid tanpa pikir panjang langsung menjawab,"kalau keadaan seperti itu, aku pasti akan memberikan setengah dari kerajaanku." Abu Nawas tersenyum mendengar jawaban itu. Kemudian memberikan segelas air itu untuk diminum. Setelah diminum, Abu Nawas bertanya kembali,"apabila air yang telah diminum itu tidak bisa keluar lagi, apa yang akan diberikan oleh engkau untuk mengobati supaya air tersebut bisa keluar lagi?"

Harun Al-Rasyid menjawab,"aku akan memberikan setengah dari kerajaanku untuk mengeluarkannya." Abu Nawas kembali tersenyum, sambil berkata,"itulah nasehatku. Ternyata segelas air itu setara dengan satu kerajaanmu".

Jadi, selagi kita sehat. Perbanyaklah rasa syukur kita pada yang Memberi kesehatan itu yaitu Allah SWT. Jangan sekali-kali ngelakuin sesuatu yang dapat ngebuat kita sakit. Ingat kata-kata Rasulullah SAW : "pergunakan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu". Karena, sesungguhnya sehat itu mahal. wallau'alam

Selasa, 05 Januari 2010

HIDAYAH IBARAT PESAWAT TERBANG

Ada sebuah cerita tentang dua orang teman yang saling mengasihi karena Allah SWT. Suatu ketika, salah satu dari mereka melakukan perbuatan maksiat. Sahabatnya bertanya,"Kenapa engkau melakukan itu sahabatku?". Dan dia pun menjawab,"aku tidak tahu, mungkin hidayah Allah belum sampai kepadaku".

Bro, dari cerita di atas. Benarkah kita susah untuk mendapatkan hidayah Allah itu?ternyata,hal itu kembali pada diri kita juga. Allah ga' akan semata-mata memberikan hidayah-Nya kepada kita kalo kitanya sendiri belum siap untuk mendapatkan hidayah itu.

Yups, sebenarnya hidayah Allah itu sangat dekat dengan kita. Tinggal bagaimana kita untuk meraihnya. Ada yang menganalogikan kalo hidayah Allah itu ibarat pesawat terbang. Nah loh, apa hubungannya antara hidayah Allah dengan pesawat terbang???


Ternyata bisa di bilang ada cing. Coba kita berfikir kalo pesawat terbang ga ada landasannya, apa 'ntu pesawat akan mendarat??anak kecil juga bisa jawab. YA GA AKAN LAH. Sama, hidayah Allah juga seperti itu. Cuma bedanya, landasan hidayah Allah itu bukan kaya landasan pesawat terbang. Landasan hidayah Allah itu adalah hati kita. Apabila hati kita belom bisa jadi landasan hidayah Allah, maka GA AKAN MUNGKIN JUGA hidayah Allah mendarat di hati kita.

So, siapkah hati kita untuk menjadi landasannya hidayah Allah?hanya kita yang bisa menjawabnya. wallahu'alam

Sabtu, 02 Januari 2010

LAHIR SEMANGAT BARU

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Apa kabar sahabat smart?, semoga setiap perjumpaan kita selalu saling menularkan energi semangat.
Baru saja kita lalui pergantian tahun baru 2010, banyak dari kita mensikapi perubahan tahun itu sebagai pembaharuan hidup, harapan, doa, dan perbaikan diri.
Tentu tak ada salahnya memanfaatkan momen tertentu untuk dijadikan tonggak perubahan, seolah kembali mendapat garis start baru.
Walaupun tentunya di setiap waktu yang kita miliki adalah momen terbaik bagi kita untuk selalu berubah menuju kearah kebaikan.

Sahabat, disela hingar bingarnya pergantian tahun baru ditengah sibuknya crew Smart menyusun dan merapikan berbagai agenda, disaat kami bersemangat merapikan dan memperbaiki diri, Subhanallah walhamdulillah salah seorang dari pengurus Smart terbaik, Kang Deni dan Teh Eva diamanahi Allah seorang putra pertamanya Sabtu 02 Januari 2010 – 16 Muharram 1431 pkl. 08.55 dengan berat 3.2 kg tinggi 49 cm.

Segenap pengurus Smart mengucapkan “Barakallahu laka fil mauhubi laka wasyakartal wahiba wabalagha asyaddahu waruziqat birrahu” Mudah2an Allah melimpahkan berkah, dan Anda makin mensyukuri Dzat Pemberinya. Semoga si anak ini mencapai kedewasaannya dan dikaruniai kebaikan.

Kelahiran ananda melipatkan energi dan melesatkan semangat kami, betapa kami memandang kehadiran ananda penuh dengan harapan akan lahirnya generasi rabbani, dan harapan itu akan kami jadikan ruh semangat kami.

MENGUKUR IKHLAS KITA

Dari Amirul Mukminin, Umar bin Khathab ra, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niatnya dan tiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka ia akan mendapatkan pahala hijrah karena Allah dan Rasulullah. Barang siapa yang hijrahnya karena faktor duniawi yang akan ia dapatkan atau karena wanita yang akan ia nikahi, maka ia dalam hijrahnya itu ia hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari-Muslim)

Setiap amal bergantung kepada niatnya. Yup, benar banget. Niatnya pun kudu ikhlas karena ingin mengharap keridhoan Allah Swt. semata. Hmm.. kudu ikhlas ya? Waduh, kayaknya kata itu buat kita jadi makin asing neh. Bukan kenapa-kenapa, susah juga nemuin orang yang mau ikhlas di jaman sekarang. Segalanya diukur dengan duit, dengan harta benda, ketenaran, cari muka dan sejenisnya. Iya, maksudnya kalo kita mau nolong orang kadang yang kepikiran: nih orang mau ngehargai gue nggak sih; orang ini kalo gue bantu mau balas jasa nggak ke gue; kalo gue menolong dia nama gue harum nggak sih; kalo gue nolong orang ini, kira-kira berapa gue dibayar; dan seabreg pikirin lainnya yang ujungnya itung-itungan deh.

Bro en Sis, secara teori udah banyak orang yang jelasin. Seperti kata teori pula, kayaknya gampang untuk bisa ikhlas. Tapi praktiknya, duh kita bisa rasakan sendiri gimana susahnya jaga hati dan jaga pikiran biar ikhlas kita nggak ternoda. Soalnya, ada aja celah yang bisa bikin kita melenceng dari niat awal dalam berbuat. Awalnya sih insya Allah bakalan ikhlas, eh nggak tahunya di tengah jalan ada yang godain kita supaya nggak ikhlas. Halah, gawat bener kan?

Sobat muda muslim, sekadar ngingetin memori kita, dalam Islam ikhlas ternyata mendapat perhatian khusus lho. Soalnya, ini erat kaitannya dengan amal perbuatan kita dan keimanan kita kepada Allah Swt. Jangan sampe deh kita beramal diniatkannya bukan karena perintah Allah Swt. atau bukan karena ingin mendapat ridho Allah Swt. Kalo sampe diniatkan dalam beramal karena ingin dipuji manusia gimana tuh? Duh, nggak tega deh saya nyebutinnya. Soalnya, tuh amal nggak bakalan ada bekasnya alias nggak mendapat ridho Allah Swt. Amal kita jadi sia-sia, Bro. Ih, nggak mau kan kita beramal tapi nggak dapat pahala? Amit-amit deh!

Bro en Sis, ikhlas adalah melakukan amal, baik perkataan maupun perbuatan ditujukan untuk Allah Ta’ala semata. Allah Swt. dalam al-Quran menyuruh kita ikhlas, seperti dalam firmanNya (yang artinya): “dan (aku telah diperintah): "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yunus [10] :105)

Rasulullah saw, juga ngingetin kita melalui sabdanya (yang artinya), “Allah tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah semata.” (HR Abu Daud dan Nasa’i)

Imam Ali bin Abu Thalib r.a juga berkata, “orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah.”

Bro, sekadar tahu aja bahwa ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seseorang nggak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Firman Allah Swt (yang artinya): Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS al-An’aam [6]: 162)

Allah Swt. juga berfirman dalam ayat lain (yang artinya), “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS al-Bayyinah [98]: 5)

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”

Karena itu nggak heran kalo Ibnu Qayyim al-Jauziyah ngasih perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau menulis, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”

Bro, lawannya ikhlas itu adalah ujub dan riya’. Itulah sebabnya orang yang sekaliber Umar bin Abdul ‘Aziz r.a. pun sangat takut akan penyakit riya’. Ketika ia berceramah kemudian muncul rasa takut dan penyakit ujub, segera ia memotong ucapannya. Dan ketika menulis karya tulis dan takut ujub, maka segera merobeknya. Subhanallah!

Al-Fudhail bin ‘Iyadh mengomentari ayat kedua dari surat al-Mulk (liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa), bahwa maksud dari amal yang ihsan (paling baik) adalah amal yang akhlash (paling ikhlas) dan yang ashwab (paling benar). Ada dua syarat diterimanya amal ibadah manusia, ikhlas dan benar. Amal perbuatan, termasuk ibadah yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah semata tetapi pelaksanaannya tidak sesuai dengan syariat Islam, maka amal tersebut tidak akan diterima Allah. Begitu juga sebaliknya, jika perbuatan dan ibadah dilakukan sesuai dengan syariat, tetapi yang melaksanakannya tidak semata-mata ikhlas karena Allah, maka amalnya tidak diterima.

Ikhlaskah kita?
Ikhlaskah kita jika beramal tapi ngarepin imbalan materi? Ah, kamu pasti bisa menilai sendiri deh. Iyalah. Misalnya nih, kalo ortu kamu minta tolong sama kamu untuk belanja kebutuhan dapur ke warung dekat rumah, kemudian kamu minta imbalan ke ortu kamu, ati-ati lho. Itu bisa termasuk nggak ikhlas kamu berbuat. Sebaiknya lurus-lurus aja. Nggak ngerasa ada ruginya alias nothing to lose, gitu lho. Mau dapet materi apa nggak dari apa yang kita usahain, kita nggak peduli. Nolong aja. Apalagi itu sama ortu. Jangan sampe deh ketika ortu minta tolong, eh kita malah pake tarif segala: Jauh-dekat Rp 2000 (idih, emangnya naik angkot!).

Bro, kalo kebetulan kamu ditunjuk jadi ketua OSIS atau ketua Rohis, nggak usah ngarepin materi dari jabatan yang kamu sandang. Kalo kamu beranggapan bahwa dengan menjadi ketua OSIS kamu bakalan bisa dengan mudah narikin iuran dari siswa terus kamu bisa memperkaya diri, wah itu namanya bukan cuma nggak ikhlas tapi udah melakukan penyalahgunaan jabatan.

Bro, meski kita nggak ngarepin imbalan secara materi, tapi yakin deh bahwa apa yang kita lakukan pasti mendapat ganjaran kebaikan lain di sisi Allah Swt. Jadi, nothing to worry about alias nggak perlu cemas dengan jaminan kebaikan dalam bentuk lain yang Allah berikan sebagai ‘imbalan’ atas keikhlasan kita. Intinya sih, jangan ngarepin imbalan dari manusia, cukup ridho dari Allah Ta’ala aja yang kita harepin. Setuju kan?

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik ra., ia berkata: Aku pernah berjalan bersama Rasulullah saw. Beliau mengenakan selendang dari Najran yang kasar pinggirnya. Tiba-tiba seorang badui berpapasan dengan beliau, lalu menarik selendang beliau dengan kuat. Ketika aku memandang ke sisi leher Rasulullah saw. ternyata pinggiran selendang telah membekas di sana, karena kuatnya tarikan. Orang itu kemudian berkata: Hai Muhammad, berikan aku sebagian dari harta Allah yang ada padamu. Rasulullah saw. berpaling kepadanya, lalu tertawa dan memberikan suatu pemberian kepadanya. (HR Muslim)

Subhanallah, Rasulullah saw. malah memberikan harta (berinfak), padahal orang badui itu memintanya dengan kasar. Tapi itulah Rasulullah saw. sudah mengajarkan kepada umatnya bahwa beramal baik harus ikhlas dan tanpa pertimbangan untung-rugi lagi. Hebat kan, Bro?

Oya, keikhlasan kita juga akan diuji saat kita merasa ingin dilihat oleh orang lain, lho. Kalo mikirin hawa nafsu sih, kadang kita kepikiran ya pengen dilihat oleh teman kita ketika kita berbuat sesuatu. Ketika masukkin duit ke keropak di masjid, kita bahkan kepengin banget diliatin ama temen di sebelah kita. Emang sih, duitnya kita tutupi dengan tangan satunya saat masukkin ke keropak yang diedarkan di masjid kalo ada acara di sana. Apalagi kalo sampe terbersit di pikiran dan hati kita akan adanya decak kagum dari teman yang ngeliat amal kita, “subhanallah ya, dia rajin shadaqahnya”. Duh, itu bisa menodai amalan kita, Bro. Emang nggak mudah berbuat ikhlas ya. Tapi bukan berarti nggak bisa dilakukan.

Saat tampil jadi imam shalat, dan kebetulan bacaan al-Quran kita maknyus alias enak didengerin sama jamaah lain, jangan sampe deh kita punya pikiran ingin dianggap paling hebat. Apalagi kalo sampe diam-diam kita malah mengagumi diri sendiri, “orang lain nggak ada yang bisa kayak saya. Mereka pantas memilih saya jadi imam shalat”. Ah, ngeri deh. Ngeri kalo amalan kita bakalan nguap begitu aja. Insya Allah cara shalatnya sih bener asal ngikutin aturan yang udah ditetapkan dalam fiqih, tapi persoalan niat yang ada di pikiran dan hati bisa merusak amalan baik kita. Bener lho. Gara-gara nggak ikhlas, amal kita jadi sia-sia. Karena kita lebih ngarepin agar diliat oleh orang daripada ingin diliat sama Allah Swt.

Bro en Sis, emang sih kita bisa merasakan langsung kalo targetnya ingin diliat orang. Begitu suara kita mengalun manis dan easy listening saat mendendangkan nasyid terbaru dan kemudian para jamaah penonton konser nasyid tingkat RT yang kita ikutin itu bersorak gembira dan mengelu-elukan kita, pasti deh ada aja sedikit rasa jumawa en bangga diri (gue gitu, lho!). Awalnya sih boleh-boleh aja kita merasa ingin dihargai orang lain. Wajar kok. Tapi yang nggak wajar adalah kita merasa harus memposisikan diri selalu ingin dihargai dan dihormati. Kalo nggak dihargai ngambek dan kecewa. Nah, yang bisa merusak amal kita adalah karena niat yang udah tercemar “ingin selalu diliat orang”. Padahal, menjadi “dilihat orang” adalah efek samping, bukan tujuan kita dalam berbuat/beramal. Orang yang sering tampil dimuka umum wajar atuh kalo akhirnya dikenal. Tul nggak sih?

Muhasabah diri
Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Hasyr [59]: 18)

Ayat ini merupakan isyarat untuk melakukan muhasabah setelah amal berlalu. Karena itu Umar bin Khaththab ra berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab” (Ibnu Qudamah, Minhajul Qashidin (terj.), hlm. 478)

Muhasabah di sini artinya senantiasa memeriksa diri kita sendiri. Sudah sejauh mana sih yang kita raih dalam beramal baik. Sudah banyak nggak pahala yang kita perbuat, atau jangan-jangan malah sebaliknya kedurhakaan yang mengisi penuh pundi-pundi amal yang bakalan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah?

Yuk, kita bareng-bareng meningkatkan kualitas amalan kita dan memperbanyak amal shaleh. Senantiasa ikhlas, bersabar, dan bersyukur kepada Allah Swt. Nggak jamannya lagi mengingkari kelemahan kalo sejatinya kita emang lemah dan nggak mampu. Juga nggak perlu malu mengakui kesalahan jika memang kita salah. Jangan menyerang orang lain yang kita tuding sebagai biang kesalahan kita, tapi kita melakukan interospeksi diri. Sebab, kita hidup bersama orang lain. Dan kita memang saling membutuhkan satu sama lain. Kita juga pasti butuh kepedulian dari orang lain (termasuk kita sendiri harus peduli dengan orang lain). Itu sebabnya, kita harus ikhlas menerima teguran dan nasihat dari teman kita. Jangan merasa terhina jika dinasihati. Tapi sebaliknya, merasa diistimewakan karena selalu diingatkan.

Nikmati dunia ini dengan cara yang benar dan tuntunan yang sesuai ketetapan Allah Swt. dan RasulNya. Tak perlu khawatir, karena semua yang diberikan oleh Allah Swt. kepada kita adalah demi kebaikan kita. Tetaplah kita bersama Allah Swt. dan RasulNya. Jalani hidup dengan ikhlas, insya Allah nikmat, bahagia, tanpa perlu merasa was-was. Ikhlas menjadikan kita lebih terhormat di hadapan Allah Swt., juga menjadikan orang lain berusaha mencontoh pribadi kita yang baik. Semoga, kita semua bisa menjadi hamba-hamba Allah Swt. yang senantiasa ikhlas menghadapi berbagai kenyataan hidup sembari berdoa memohon ampun dan pertolongan kepada Allah Swt. Kita muhasabah diri: seberapa ikhlaskah kita? Hanya kita yang mampu menjawabnya. Interospeksi yuk! [solihin: osolihin@gaulislam.com | http://osolihin.com]